Acak-acakan

Ian yang dulu lagi. Itu kata sahabatku. Haha, kalau disambungkan dengan konsep progresivitas, berarti kemunduran dong namanya, menyamakan diri dengan yang dulu. Namun rasanya bukan itu yang harus dikomentari, tetapi bagaimana kemudian caraku memandang hidup dan kehidupan setelah ini. Banyak jalan yang masih harus aku pilih, dan aku mau aku memilih dengan sadar dan penuh pemahaman akan setiap konsekuensi yang muncul. Ian yang dulu, kata temanku, Ian yang gak mau mengikat hati pada satu wanita. Mungkin karena akhirnya aku memutuskan untuk beralih dari wanita yang telah (pernah) kuserahkan hatiku padanya, mungkin itu yang temanku bilang kembali ke Ian yang dulu.

Tertawa juga aku dibuat sahabatku. Hmm, Ian yang dulu. Lucunya adalah bahkan aku sendiri gak pernah benar-benar mengenali diriku sendiri yang dulu itu seperti apa. Aku hanya tahu aku menjalani yang aku inginkan dan yang Allah gariskan. Gak lebih dan gak kurang. Apa yang istimewa dari itu? Bahwa aku menikmati kehidupan, toh banyak orang yang lebih bisa menikmati kehidupan dengan cara yang lebih hebat dariku. Bahwa aku merasa tak ada beban, rasanya salah, karena setiap detik napas yang manusia hirup adalah beban untuk dipertanggungjawabkan di kehidupan sesudah mati nanti. Lantas apa yang istimewa?

To be with you is all that I need

‘cos with you my life seems brighter

And these are all the things I wanna say

Iya, bersama siapa? Aku pernah bersama seorang wanita, dan pertanyaan terbesar adalah apakah itu yang aku butuhkan? Aku juga seringkali menukar dunia kuliahku dengan dunia lain yang kuanggap lebih menghibu, lebih menyenangkanku, karena aku bisa berbagi kebahagiaan dengan banyak orang, walaupun harus dibayar dengan kelelahan yang luar biasa. Apatah itu yang aku sebut dengan kebahagiaan? Seringkali setiap aku kembali pulang dan terkurung di ruang sunyi kamarku, aku terjebak pada khayalanku sendiri. Khayalanku mendatangiku seperti teman bermain yang demikian gigih mengajak menari di bawah gerimis hujan. Menjadi autis, sik sendiri, tak peduli sekeliling.

Lalu aku juga bertanya apakah ini karena aku begitu merindukan Mama-Papa ku di rumah. Rumah yang hanya bisa kujamah setahun sekali, yang itupun tak cukup lama untuk bisa melepaskan segunung kerinduan yang tertumpuk selama satu putaran bumi atas matahari. Mungkinkah aku merindukan pelukan Mama di setiap kali aku pulang dan melepaskan lelahku? Atau mungkin juga aku rindu omelan Papa yang melarangku ini-itu hanya agar aku bisa lebih banyak di rumah dan menghabiskan waktu bersama mereka? Atau mungkin aku rindu adikku yang ternyata setia kali kami bertemu, lebih banyak selisih yang kami lakukan. Ah lucu memang. Ternyata Allah menciptakan jarak dan waktu hanya untuk memupuk kerinduan akan kampung, menumpuk kerinduan kepada orang-orang yang kita cintai pertama kali, lalu memberikan kekuatan yang sangat besar kepada manusia untuk meruntuhkan jarak dan waktu yang memisah.

tak perlu menggenggam dunia kalau kamu tahu waktumu sudah dekat. cukup genggam tangan-tangan yang berkeliaran di sekelilingmu. semoga dengan begitu dunia akan mengenang genggamanmu. selalu.

Pertanyaan berikutnya, tangan siapa yang akan aku genggam hari ini supaya kelak aku bisa dikenang dunia?

 
 

One Response to “Acak-acakan”

  1. ladysherry Says:

    “aku sendiri gak pernah benar-benar mengenali diriku sendiri”
    welcome to the journey of finding ourself


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.